Pembela Sarekat Islam

Namanya adalah Syekh Ahmad Khatib Minangkabau yang lahir pada tahun 1860 di Bukit Tinggi dan dari keluarga terpandang di Minangkabau pada zamannya. Dari pihak ayahnya ia masih sepupu dengan KH. Agus Salim, cendekiawan dan pemimpin islam yang berpengaruh di Indonesia. Setelah selesai sekolah rendah ia melanjutkan sekolah di Makkah pada tahun 1871. berkat kecerdasan dan ketekunannya ia berhasil mencapai kedudukan imam masjid besar Masjidil Haram dalam madzhab Syafi’i. setelah bermukim disana selama 10 tahun, ia menikah dengan putrid gurunya. Lalu ia menghabiskan sepanjang hayatnya dedngan menetap di Makkah sabagai guru dan meninggal disana pada tahun 1916.

Ahmad Khatib Minagkabau menentang keras pembagian harta puska seperti yang berkembang di Minagkabau. Menurutnya para pelaksana hukum waris telah menjadi fasik. Untuk membahas soal pembagian harta pusaka menurut hukum islam, ia menulis sebuah buku. Di dalamnya ia menyatakan bahwa seluruh harta pusaka yang diwarisi kemenakan sama dengan harta rampasan. Perbuatan itu merupakan dosa besarkarena merampas harta anak yatim piatu.

Meski pendapatnya tentang harta waris Minang ditentang kaum adapt dan ulama Minangkabau, Ahmad Khatib tetap pada pendiriannya. Akhirnya sebagai jalan keluar, pada pertemuan Persatuan Tarbiyah Islamiah pada tahun 1983, dan seminar “tungku tiga sejarawan” (ulama, penghulu, dan cerdik pandai) pada tahun1952, diputuskan pembedaan pembagian antara harta pusaka (harta waris tertinggi) dan harta pencahariaan (harta pusaka rendah). Untuk yang pertama berlaku hukum waris adapt, dan untuk yang kedua hukum waris islam.

 
Top